Desa Wisata Jatiluwih Tembus 1 Juta Wisatawan, UMKM Lokal Ikut Panen Berkah
Hamparan sawah Jatiluwih, Tabanan, Bali (Jelajah Bisnis/Dok. Pokdarwis)
Tabanan – Desa Wisata Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, mencatatkan pencapaian baru dengan menembus angka 1 juta kunjungan wisatawan dalam setahun terakhir. Lonjakan ini tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga mengangkat roda ekonomi ratusan pelaku UMKM lokal di sekitar kawasan persawahan warisan dunia tersebut.
Sistem irigasi subak yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia menjadi daya tarik utama. Namun yang membedakan Jatiluwih dari destinasi wisata alam lainnya adalah bagaimana masyarakat setempat berhasil mengintegrasikan pariwisata dengan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.
Dari Petani Menjadi Pelaku Usaha Pariwisata
Lebih dari 340 UMKM kini beroperasi di sekitar kawasan Jatiluwih — mulai dari homestay tradisional, warung kuliner khas Bali, hingga gerai suvenir kerajinan tangan. Banyak di antaranya adalah petani yang dulunya hanya mengandalkan hasil sawah, kini memiliki sumber penghasilan tambahan dari sektor pariwisata.
“Dulu kami hanya menjual gabah. Sekarang wisatawan datang, kami bisa jual kopi, jual makan siang, bahkan sewa pakaian adat untuk foto.” — Pengelola homestay lokal Jatiluwih
Perputaran ekonomi di kawasan ini diperkirakan mencapai Rp48 miliar per tahun, sebuah angka yang signifikan untuk skala desa. Pemerintah daerah bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat terus mendorong pelatihan kewirausahaan agar manfaat ekonomi ini bisa dirasakan lebih merata oleh warga.
Tantangan Menjaga Keseimbangan
Di balik capaian positif ini, pengelola kawasan menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan jumlah wisatawan dengan kelestarian lanskap persawahan yang menjadi identitas utama Jatiluwih. Pembatasan kuota kunjungan harian dan edukasi wisatawan tentang etika berkunjung menjadi bagian dari strategi pengelolaan jangka panjang.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku UMKM diharapkan dapat menciptakan model desa wisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga lestari secara budaya dan lingkungan — menjadikan Jatiluwih sebagai rujukan pengembangan desa wisata lain di Indonesia.